"Kami berharap, pemerintah tetap memberi kami kesempatan untuk mencari nafkah di Kota Jakarta," ungkap seorang tukang ojek Ontel di Pasar Pagi, Jakarta.
Jumlah pengojek ontel di Jakarta kata pria berusia 60 tahun tersebut mencapai ratusan orang. Namun, kehadiran ojek ontel semakin terpinggirkan akibat tempat mangkal mereka semakin sempit.
"Padahal, kami jumlahnya juga masih banyak, bahkan hampir seribu orang. Tapi, tempat mangkal kami semakin sempit karena banyaknya kendaraan menggunakan mesin di Jakarta," katanya.
"Belum lagi tempat `ngetem` (mangkal) kami yang semakin sempit kami juga harus bersaing dengan ojek motor serta angkutan kota yang lebih cepat. Kami hanya berharap bisa nafkah dengan layak agar bisa menghidupi keluarga," kata Khalid yang menghidupi istri dan tujuh anaknya dengan bekerja sebagai tukang ojek sepeda selama 20 tahun yang lalu.
Hal senada diungkapkan, tukang ojek sepeda ontel lainnya, Baum."Tempat kami ngetem hanya di beberapa kawasan saja," ujar tukang ojek sepeda ontel yang kerap mangkal di kawasan Mangga Dua tersebut.
Penghasilan yang diperoleh sebagai tukang ojek sepeda ontel lanjut Baum, hanya untuk makan sehari.
"Kalau lagi untung bisa dapat Rp50 ribu sehari. Tapi itu sangat jarang sebab rata-rata kami hanya bisa dapat Rp30 ribu per hari," ungkapnya.
"Untuk sekali `narik` (mengantar penumpang) biasanya kami tawarkan tarif Rp5 ribu, tapi kalau jaraknya cukup jauh, kami minta hingga Rp30 ribu," katanya.
Namun, sekarang jarang ada penumpang yang mau diantar pakai ojek sepeda ontel hingga ke tempat yang jauh.
Ditengah persaingan dengan ojek sepeda motor, tukang ojek sepeda ontel lainnya, Mulyadi, mengaku mencari cara agar bisa mendapat penumpang.
"Kadang hari setidak dapat penumpang sama sekali, sebab orang yang mau naik sepeda ontel hanya yang bawa barang, itupun yang tidak terlalu berat saja. Jadi, kita harus mencari tempat mangkal yang strategis dan berusaha ramah kepada setiap orang," kata tukang ojek ontel yang mangkal di kawasan terminal Kota Tua itu.
Ia berharap, pemerintah mau memperhatikan nasib meraka yang kian tergilas oleh kehadiran angkutan umum yang menjanjikan berbagai kenyamanan.
"Sebelum ada `busway` (bus TransJakarta) kami salah satu bagian penting dari angkutan di Jakarta. Tapi, setelah angkutan semakin banyak, kami semakin tersisih," katanya.
Bahkan, pengjojek ontel dulu jumlahnya ribuan tetapi karena sudah banyak yang bisa beli motor mereka kemudian jadi tukang ojek motor.
"Kami yang tidak sanggup beli motor, terpaksa tetap jadi tukang ojek ontel," ujar Mulyadi.
Mereka berharap bisa diperhatikan, minimal diberi keleluasaan untuk menggunakan jalan-jalan tertentu. Padahal, kami merupakan alat transportasi yang ramah lingkungan serta tidak perlu bahan bakar. Kalau perlu, sepeda ontel dijadikan transportasi khas Kota Jakarta," harap Mulyadi.(cok/an)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar