JAKARTA, MP - Keinginan pengunjung Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran, Jakarta Pusat menikmati hiburan tampaknya harus terusik dengan keberadaan sales promotion girl (SPG) yang sudah menghadang sejak pintu masuk. Sedikit memaksa, para SPG ini terus menguntit pengunjung hingga dagangannya laku terjual. Ironisnya, pengelola PRJ tak bisa berbuat banyak dan menganggap itu semua resiko bagi yang mengunjungi PRJ.Fery (25) warga Depok, Jawa Barat yang sudah jauh-jauh datang ke PRJ malah mendapatkan pengalaman yang menjengkelkan. Ia bersama rekan-rekannya mengaku tidak nyaman saat baru tiba di arena PRJ. "Bayangkan saja mas, saya sudah antre beli tiket dan mau masuk pun harus antre, eh begitu masuk malah disambut sama sales yang jumlahnya mencapai belasan, bagainmana tidak sewot," ujarnya dengan nada ketus, Senin (15/6).
Yang membuatnya makin senewen, para SPG yang mengenakan seragam sesuai dengan perusahannya bekerja itu sering menghalang-halangi pengunjung yang akan melintas. Bahkan suara mereka terlalu kencang sehingga cukup mengagetkan dan memekakkan gendang telinga. "Suaranya cempreng, kita kan jadi kaget. Sudah jalannya dihalangi, barang yang ditawarkan pun tidak ada yang menarik dan cenderung tidak bermutu," terangnya. Ironisnya, jika pengunjung tidak melirik sama sekali, SPG tersebut mengeluarkan kalimat yang melecehkan.
Berdasarkan situs berita milik Pemprov DKI Jakarta, Senin (15/6) malam, di area PRJ memang terlihat dari sembilan gate (pintu masuk) yang ada, sebagian besarnya telah dipadati oleh belasan sales yang menawarkan dagangannya. Mulai dari makanan, minuman ringan hingga souvenir selalu disodorkan jika ada pengunjung yang masuk. Jika pengunjung menampik barang yang ditawarkan, tak segan-segan SPG tersebut mengeluarkan kalimat yang merendahkan.
Humas PRJ, Andre mengatakan, tidak dapat menertibkan para sales itu. Alasannya itu merupakan otoritas pedagang yang ikut di arena PRJ untuk menawarkan produknya atau dagangannya. "Itulah susahnya. Kalau ditertibkan salah lagi, kita tidak bisa melarang karena itu merupakan otoritas mereka. Kecuali jika di antara mereka saling menjelek-jelekan produk yang dijual, baru dilarang," jelasnya.
Menurutnya, jika dibandingkan dengan pameran di luar negeri memang agak jauh berbeda karena transaksi biasanya tidak dilakukan langsung. Peserta dan pengunjung pameran cenderung melakukan transaksinya melalui internet atau telepon. "Tapi di Indonesia ya begini, peserta menawarkan dan menjual dagangannya. Kalau ada sales yang menawarkan di pintu-pintu masuk, ya itu sudah resiko pengunjung karena memang pameran di sini identik dengan pasar rakyat," imbuhnya. (mp/*b)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar