JAKARTA, MP - Bulog Devisi Regional (Divre) DKI Jakarta menjamin ketersediaan stok beras menjelang pemilu presiden (Pilpres) Juli 2009 mendatang hingga sampai pada bulan puasa 1430 hijriah. "Stok beras di ibukota Jakarta hingga saat ini tersedia 131.592 ton atau aman untuk beberapa bulan mendatang," kata Kepala Bulog Divre DKI Jakarta, H Abdul Karim Pati, di Jakarta Rabu (27/5).
Menurut Karim, ketersediaan stok beras DKI tersebut merupakan langkah pemerintah untuk menyediakan beras nasional, termasuk beberapa daerah penyangga seperti Banten, Tangerang, Serang, dan Lebak.
Khusus prognosa 2009 ditaregtkan 75.500 ton, hingga saat ini telah terealisasi sebanyak 34.500 ton atau sudah mencapai 45 persen, sedangkan waktu untuk memasok beras untuk ketersediaan stok masih beberapa bulan lagi.
Target tersebut meningkat sekitar 5-6 persen dari prognosa tahun sebelumnya yang hanya mencapai 74.400 ton.
Menyinggung penyaluran beras untuk rakyat miskin (raskin) di wilayah DKI Jakarta dan Banten, mantan Kadivre Bulog Sulawesi Selatan itu menyatakan, saat ini telah terealisasi sebanyak 12.000 ton dari target 88.000 ton di tahun 2009.
"Kalau dibanding tahun lalu, penerima raskin tahun ini naik sedikit. Pada tahun sebelumnya, setiap bulan Bulog DKI menyalurkan raskis hanya 2.200 ton. Namun untuk tahun ini mencapai rata-rata 3.000 ton per bulan untuk 180.660 rumah tangga sasaran (RTS),” katanya.
Ia menamabahkan, proses penyaluran beras raskin kepada setiap RTS itu sebanyak 15 kilogram disalurkan selama 12 bulan dengan batas distrubusi beras hanya pada titik terakhir di tingkat kelurahan.
Target Sewa RP7,5 Miliar
Sementara itu Divisi Regional (Divre) Bulog DKI Jakarta tahun 2009 menargetkan pendapatan asli daerah sebesar Rp7,5 miliar dari hasil sewa sejumlah aset yang dimilik. "Kami optimistis, target pendapatan asli sebesar itu bisa terealisasi," kata Kepala Bulog Divre DKI Jakarta, Abdul Karim Pati.
Menurut Karim, hingga bulan Mei 2009 ini kontribusi hasil sewa aset Bulog DKI itu sudah terkumpul dana sebesar Rp4 miliar lebih, sementara waktu penyewaan masih berkisar 6-7 bulan.
Pada tahun 2008, target hasil sewa aset pada sejumlah gudang sebesar Rp4,5 miliar, namun terealisasi mencapai Rp7,6 miliar atau meningkat sekitar 150 persen.
Target penyewaan aset sebesar Rp7,5 miliar di tahun 2009 ini diharapkan bisa melampaui dari tahun lalu.
Ia mengatakan, aset yang dimiliki Bulog DKI dipersewakan ke sejumlah perusahaan itu berupa sewa gudang dan aset-aset berharga lainnya seperti lahan kosong yang cukup banyak dicari para pengusaha di ibukota.
Tanpa menyebut aset dan jumlah gudang milik Bulog yang dipersewakan itu, namun mantan ka Divre Bulog Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara mengatakan, saat ini Bulog DKI memiliki kapasitas gudang penampungan sebesar 340.000 ton.
Sementara, gudang yang hanya digunakan Bulog DKI untuk menampung beras rakyat miskin (raskin) dan cadangan beras nasional hanya sebesar 30 persen dari total kapasitas gudang yang cukup luas.
"Jadi sekitar 70 persen dari total aset gudang itu kini dalam status dipersewakan kepada sejumlah perusahaan dengan masa kontrak satu tahun ke atas, dan bisa diperpanjang sesuai dengan keinginan penyewanya," katanya.
Penyewaan aset gudang milik Bulog DKI, dilakukan sejak dua tahun terakhir seiring ditiadakannya beras impor yang masuk ke tanah air.
"Saat beras impor masuk ke tanah air hampir sekitar 75 persen di tampung di gudang Bulog DKI, namun setelah impor beras itu sudah tidak ada, maka gudang-gudang penampungan beras pun ikut kosong," katanya.** (mp/a)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar