JAKARTA, MP - Sarana wisata alternatif Hutan Kota Srengseng masih jauh dari harapan warga. Betapa tidak, di areal seluas 15 hektar itu sangat minim fasilitas. Misalnya, toilet hanya satu buah, tidak ada tempat ibadah, dan juga belum terdapat saung untuk berteduh saat hujan. Parahnya lagi, tiket masuk yang dikenakan tidak sesuai dengan yang tertera di tiket. Setiap pengunjung yang masuk dikenakan bayaran Rp 2.000, padahal tertulis di tiket hanya Rp 500. Tak hanya itu, meski sudah membayar Rp 2.000, pengunjung juga dikenakan biaya parkir sebesar Rp 1.000.Kondisi ini tentu membuat para pengunjung kecewa. Salah satunya diungkapkan Kesya (27). Ia mengaku kaget ketika penjaga pintu masuk meminta bayaran Rp 2.000. Parahnya lagi, ketika meninggalkan lokasi, dia kembali harus mambayar uang parkir sebesar Rp 1.000.
"Sebenarnya saya ditarik (bayar-red) Rp 2.000 tidak masalah. Tapi, kok beda sama yang tertulis di karcis. Di karcis kan cuma Rp 500. Terus parkirnya juga masih bayar lagi Rp 1.000. Ya, tentu dalam hati saya bertanya-tanya juga," keluh Kesya, Kamis (21/5).
Pengelola, kata Kesya, seharusnya bertidak tegas. Jika memang dipungut Rp 2.000, di tiket juga tertera harga yang sama. Kalupun ada ketentuan tambahan, seperti pengunjung masih harus bayar parkir, sebaiknya ditulis di papan pengumuman yang ditempelkan di area pintu masuk. "Jangan kayak gini, kita kan jadi bingung," imbuh Kesya.
Selain itu, Kesya juga mengeluhkan kondisi areal Hutan Kota Srengseng yang masih banyak dijumpai tumpukan sampah, utamanya di sejumlah sudut hutan. Salah satunya, tumpukan sampah di dekat aliran Kali Pesanggrahan, yang kebetulan melintasi wilayah Hutan Kota Srengseng. Tumpukan sampah rumah tangga seperti plastik, kardus dan kayu itu tingginya hampir 2 meter. Sebagian sampah juga terlihat bercecer terjatuh ke arah sungai. "Selain menimbulkan bau tidak sedap, sampah-sampah itu juga mengurangi keindahan hutan," katanya.
Selain Kesya, Irfan pengunjung asal Tangerang juga mengeluhkan minimnya fasilitas yang ada di Hutan Kota Srengseng. "Sebenarnya saya senang berwisata di Hutan Kota Srengseng. Tapi setelah melihat kurangnya fasilitas yang ada, agak kecewa juga," ujar Irfan.
Ia mencontohkan, ketika ia hendak menunaikan sholat Dzuhur terpaksa menumpang di salah satu ruangan kantor pengelola. Belum lagi, saat hendak buang air kecil ia juga terpaksa mengantre. Sebab, toilet hanya satu, itu pun juga digunakan karyawan pengelola Hutan Kota Srengseng. Karena itu, ia sangat menyayangkan minimnya fasilitas ini. Sebab, tidak sedikit pengunjung yang datang dari luar Jakarta.
"Padahal kalau fasilitasnya lebih lengkap, mungkin pengunjung yang datang ke Hutan Kota Srengseng akan lebih banyak lagi," kata Irfan yang datang bersama pacarnya, Rini.
Selain itu, Irfan juga mengeluhkan tidak tersedianya tempat berteduh bagi pengunjung. Sehingga saat turun hujan, pengunjung terpaksa berteduh di bawah pohon. Tentu saja, saat berteduh tidak terbebas dari percikan air hujan. Untuk itu, Irfan berharap kepada pengelola Hutan Kota Srengseng bisa menambah fasilitas-fasilitas tersebut. Sehingga pengunjung semakin nyaman.
"Kalau cuaca cerah sih tidak masalah. Di sini kan sejuk. Pohon di sini rindang. Tapi kalau hujan kita pasti basah," tutur Irfan yang mengaku sudah tiga kali datang ke Hutan Kota Srengseng.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Penanggung Jawab Hutan Kota Srengseng, Gia Driviea, menjelaskan, setiap pengunjung dikenakan biaya Rp 500. Namun jika pengunjung membawa sepeda motor dikenakan Rp 2.000. Sedangkan biaya parkir dikenakan lagi sebesar Rp 1.000. Ketentuan ini, menurut Gia, sudah sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2006 tentang Retribusi Daerah.
"Penerapan biaya masuk ke Hutan Kota Srengseng tersebut yang membuat di tingkat dinas, kami hanya menjalankannya saja. Dan itu sudah sesuai dengan perda," jelasnya.
Terkait minimnya fasilitas, Gia mengakui sejauh ini fasilitas yang ada masih jauh dari ideal. Fasilitas yang sudah ada hanya wahana permainan untuk anak-anak, seperti perosotan, jungkat-jungkit, flying fox, dan panjat dinding. Itupun beberapa telah rusak. Sementara fasilitas lain seperti toilet, tempat ibadah dan tempat berteduh, belum tersedia.
"Memang sudah banyak pengunjung yang mengeluhkan minimnya fasilitas di Hutan Kota Srengseng. Misalnya, untuk toilet masih bergabung dengan karyawan di sini. Termasuk kalau hujan, pengunjung berteduh di bangunan kantor," tutur Gia.
Keluhan para pengunjung ini, kata Gia sejatinya sudah dilaporkan ke Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta. Namun, sejauh ini belum ditindaklanjuti. "Keluhan pengunjung soal minimnya fasilitas hutan kota, sudah kami sampaikan ke tingkat dinas. Tapi belum ada tindak lanjutnya," ujarnya.
Seperti diketahui, Hutan kota Srengseng merupakan salah satu hutan kota terbesar yang ada di DKI Jakarta. Luasnya mencapai sekitar 15 hektar, yang terdiri dari 10 hektar areal hutan dan 5 hektar luas danau. Pengunjungnya cukup banyak, pada hari biasa, Senin-Jumat, sekitar 50-100 orang saja, tapi saat akhir pekan dan hari libur pengunjung bisa mencapai tiga kali lipat.** (mp)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar